Festival Budaya Nusantara: Merangkai Keragaman Lewat Seni dan Musik Tradisional

Admin RBTV
|
Bagikan:
Festival Budaya Nusantara: Merangkai Keragaman Lewat Seni dan Musik Tradisional
Ajang “Festival Budaya Nusantara 2025” digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) selama lima hari, menampilkan lebih dari 300 kelompok seni dari 34 provinsi guna memperkuat identitas bangsa dan melestarikan warisan budaya.

Jakarta – Suasana penuh warna membalut kawasan TMII pada akhir pekan lalu, ketika pembukaan besar-besaran acara “Festival Budaya Nusantara 2025” resmi digelar. Acara yang berlangsung selama lima hari ini memadukan pameran, pertunjukan musik tradisional, tarian daerah, kuliner khas, hingga diskusi publik mengenai pelestarian kebudayaan.

Advertisement
Ad Space: 300×250

Acara dibuka oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, yang hadir bersama perwakilan dari 34 provinsi. Dalam sambutannya ia menyatakan,

“Festival ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi panggung hidup bagi keragaman Indonesia. Saat kita merawat warisan budaya, maka kita meneguhkan identitas bangsa.”

Dalam lima hari pelaksanaan, festival menampilkan lebih dari 300 kelompok seni dari seluruh provinsi — mulai dari angklung dan gamelan Jawa Barat, tarian Ma’badong dari Sulawesi Utara, hingga musik tradisional Sasando dari NTT. Area pameran juga menampilkan artefak budaya, pakaian adat, serta lokakarya batik dan tenun ikat yang dapat diikuti pengunjung.

Di area panggung utama, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan gabungan: opening menampilkan tarian kolosal dari Jawa Tengah dan Sumatera Barat yang dipadukan dengan proyeksi visual “peta budaya Indonesia”. Suara gamelan mengalun berseiring dengan sorak sorai masyarakat. Tak jarang pengunjung ikut berdiri, bertepuk tangan, bahkan menari bersama.

Di bagian kuliner, lebih dari 50 warung menghadirkan masakan tradisional seperti papeda dari Papua, dendeng balado dari Sumatera Barat, dan nasi liwet Solo. Aroma rempah dan bunyi tawa keluarga-keluarga yang berkunjung menyemarakkan suasana. Sebuah sudut “Bazar Kerajinan” menampilkan kerajinan tangan seperti anyaman bambu dari Kalimantan, kain songket dari Sumatera Selatan, serta ukiran kayu Toraja. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan pengrajin, bahkan mencoba menenun kain sendiri.

Menurut data panitia, selama lima hari festival diperkirakan dikunjungi lebih dari 100.000 orang dari berbagai kota di Indonesia. Kepala Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Badan Pelestarian Nilai Budaya, – yang menjadi mitra resmi acara – mengungkap bahwa festival semacam ini berperan penting dalam membangkitkan minat generasi muda terhadap warisan budaya:

“Kami melihat banyak siswa dan mahasiswa yang datang, tertarik mencoba alat musik tradisional atau bercakap langsung dengan seniman daerah,” kata Kepala BPNB.

Meski demikian, ada sejumlah tantangan yang tetap harus dihadapi agar tujuan pelestarian tercapai. Salah satunya adalah pendanaan yang terbatas untuk mengundang seniman dari daerah terpencil. Banyak kelompok kecil yang harus menanggung biaya transportasi dan akomodasi sendiri. Selain itu, koordinasi antar-provinsi di bidang kebudayaan masih dinilai kurang optimal: masih ditemukan kesulitan logistik dan perizinan antarkepulauan.

Ketua panitia, Dewi Anjani, menyampaikan bahwa pihaknya telah membuka program “Beasiswa Budaya” untuk tahun depan guna mendukung seniman dari wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

“Kami berharap bahwa tahun depan support pemerintah daerah dan korporasi bisa lebih kuat sehingga seniman dari Sabang sampai Merauke bisa hadir penuh,” ujarnya.

Pemerintah juga mengumumkan bahwa festival ini akan dijadikan agenda tahunan nasional, dengan lokasi berpindah-pindah antar-provinsi. Tahun 2026, giliran provinsi Sulawesi Selatan yang akan menjadi tuan rumah utama. Untuk mendukung hal ini, Kementerian Kebudayaan telah mengalokasikan anggaran tambahan sebesar Rp 35 miliar untuk program mobilitas seniman di daerah.

Pengamat budaya, Antonius Hermawan, dari Universitas Indonesia, menilai bahwa:

“Inisiatif seperti ini penting bukan hanya untuk hiburan atau pariwisata, melainkan untuk memperkuat akar kebangsaan, terutama saat globalisasi mempercepat homogenisasi budaya.”

Acara demi acara seperti festival ini diharapkan bisa menciptakan ekosistem budaya yang berkelanjutan: seniman diberi akses pasar, generasi muda belajar langsung dari pengrajin, dan masyarakat umum semakin menghargai dan menikmati keberagaman warisan nusantara.

Dengan demikian, Festival Budaya Nusantara 2025 bukan sekadar hiburan, tetapi wujud nyata komitmen bangsa menjaga keragaman dan menjadikannya kekuatan bersama.

Lainnya