Gerakan Seribu Mangrove di Pantai Marunda: Langkah Nyata Warga Hadapi Krisis Iklim

Admin RBTV
|
Bagikan:
Gerakan Seribu Mangrove di Pantai Marunda: Langkah Nyata Warga Hadapi Krisis Iklim
Ratusan warga pesisir Jakarta Utara bergotong royong menanam lebih dari seribu bibit mangrove di Pantai Marunda, dalam aksi yang digagas komunitas lingkungan ‘Hijau Bersama’. Kegiatan ini menjadi simbol perlawanan warga terhadap abrasi dan perubahan iklim.

Jakarta Utara – Pagi itu, angin laut bertiup lembut di Pantai Marunda. Puluhan anak sekolah dasar berbaris rapi sambil membawa bibit mangrove kecil di tangan mereka. Di sisi lain, para relawan mengenakan kaus bertuliskan “Hijau Bersama”—nama komunitas yang menjadi penggagas gerakan Seribu Mangrove untuk Marunda.

Advertisement
Ad Space: 300×250

Aksi yang berlangsung pada Minggu (19/10) tersebut diikuti oleh lebih dari 400 peserta, terdiri dari warga lokal, pelajar, mahasiswa, dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta. Dalam satu hari, mereka berhasil menanam 1.250 bibit mangrove Rhizophora mucronata di sepanjang garis pantai yang selama bertahun-tahun tergerus abrasi.

“Kami sudah kehilangan hampir 30 meter daratan dalam lima tahun terakhir,” ujar Siti Rahma, ketua komunitas Hijau Bersama, saat ditemui di lokasi. “Mangrove bukan hanya pohon, tapi benteng terakhir yang melindungi rumah kami dari laut yang semakin mendekat.”

Menurut data DLH DKI Jakarta, laju abrasi di pesisir utara mencapai 1,2 meter per tahun, terutama di kawasan Marunda dan Cilincing. Penyebabnya beragam — mulai dari kenaikan permukaan air laut, pengambilan pasir ilegal, hingga berkurangnya tutupan mangrove akibat alih fungsi lahan.

Menanggapi hal tersebut, komunitas Hijau Bersama bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) meluncurkan gerakan tanam mangrove yang bertujuan memulihkan 10 hektare kawasan pesisir dalam tiga tahun ke depan.

Program ini tidak hanya menanam, tetapi juga melibatkan warga dalam pemeliharaan bibit. Setiap keluarga yang tinggal di sekitar area penanaman mendapat “pohon adopsi”, di mana mereka bertanggung jawab merawat mangrove selama enam bulan pertama.

“Pendekatan kami sederhana — libatkan warga sebagai penjaga alam, bukan sekadar penerima bantuan,” jelas Dr. Bayu Setiawan, dosen biologi kelautan UNJ yang menjadi konsultan proyek.

Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada aspek lingkungan. Kelompok ibu-ibu nelayan kini mulai mengolah buah mangrove menjadi sirup dan dodol, yang kemudian dijual di pasar lokal dan pameran UMKM Jakarta Utara. Produk tersebut kini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga pesisir.

Selain itu, pemerintah kota Jakarta Utara juga berencana menjadikan lokasi ini sebagai “Taman Edukasi Mangrove Marunda”, tempat belajar konservasi untuk pelajar dan wisatawan. Diharapkan proyek tersebut dapat rampung pada pertengahan tahun 2026.

“Kami ingin menjadikan gerakan ini sebagai model ekowisata berkelanjutan,” kata Lurah Marunda, Dedi Prakoso, di sela-sela penanaman.

Meski penuh semangat, gerakan ini tidak lepas dari tantangan. Kualitas air laut yang tercemar dan tumpukan sampah plastik di sepanjang pantai masih menjadi masalah utama. Setiap akhir pekan, tim Hijau Bersama harus membersihkan pantai sebelum bisa menanam mangrove baru.

“Kadang bibit yang baru ditanam hanyut karena arus kuat atau mati tertimbun limbah,” ujar Siti Rahma. “Tapi kami tidak menyerah. Kalau satu mati, kami tanam dua lagi.”

DLH DKI Jakarta menyatakan akan memperbanyak papan penanda larangan pembuangan limbah, serta bekerja sama dengan pihak industri sekitar untuk mengurangi polusi yang mengalir ke laut.

Gerakan Seribu Mangrove kini telah menarik perhatian nasional. Sejumlah komunitas dari Tangerang, Demak, dan Makassar menghubungi Hijau Bersama untuk mengadopsi metode serupa. Dukungan juga datang dari beberapa perusahaan swasta yang siap membantu melalui program tanggung jawab sosial (CSR).

Menurut catatan Greenpeace Indonesia, Indonesia kehilangan lebih dari 50 ribu hektare hutan mangrove dalam dua dekade terakhir. Jika dibiarkan, abrasi dan intrusi air laut dapat mengancam ratusan ribu warga pesisir.

Namun, di tengah ancaman itu, semangat warga Marunda menjadi harapan baru.

“Kami sadar, tidak bisa menunggu pemerintah saja. Ini rumah kami, dan kami sendiri yang harus menjaganya,” tutup Siti sambil tersenyum, tangannya masih kotor oleh lumpur pesisir.

Aksi sederhana ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hanya isu global di ruang konferensi, tetapi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat setiap hari — dan bisa dilawan bersama, satu pohon mangrove dalam satu genggaman.

Lainnya