Wajah Sinema Palestina hingga Afrika

Admin RBTV
|
Bagikan:
Wajah Sinema Palestina hingga Afrika


SINEMA di kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, yang dikenal sebagai Timur Tengah bagi masyarakat Barat, memiliki akar yang panjang dalam sejarah kolonialisme, perang, dan perjuangan identitas. Wilayah yang dikenal dengan nama Timur Tengah ini mewarisi luka yang terus direkam melalui kamera.

Advertisement
Ad Space: 300×250

Sinema di wilayah ini tumbuh di tengah dua tekanan: kekuasaan negara yang berupaya menertibkan narasi dan tatapan global yang sering menstereotipekan penduduknya. Di Afrika Utara atau kawasan Maghreb, film-film dari Maroko, Aljazair, dan Tunisia lahir dari reruntuhan kolonialisme Prancis dan berbicara dalam banyak bahasa—Arab, Prancis, dan Amazigh.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di kawasan Levant, yang mencakup Libanon, Suriah, Yordania, dan Palestina, sinema menjadi cermin eksil dan diaspora. Karya Elia Suleiman (Divine Intervention, 2002) dan Mai Masri (3000 Nights, 2015) menjadikan absurditas dan kesaksian perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel. Sineas Palestina seperti Cherien Dabis (All That’s Left of You, 2025) dan kolektif Subversive Film lewat proyek arsip Restoring Solidarity menegaskan sinema sebagai ruang pemulihan memori.

Perlawanan juga lahir dari Semenanjung Arab dan Iran. Haifaa al-Mansour dari Arab Saudi menandai babak baru lewat Wadjda (2012) dan The Perfect Candidate (2019), yang menampilkan perjuangan perempuan di tengah sensor dan konservatisme. Di Iran, sinema menjadi bentuk eksistensi yang melawan represi negara. Abbas Kiarostami dan Jafar Panahi memperkenalkan realisme puitis sebagai bentuk perlawanan diam terhadap sensor.

Sinema Asia Barat dan Afrika Utara  tak hanya berbicara tentang estetika, tapi juga tentang geopolitik. Peta politik di kawasan ini, warisan Perjanjian Sykes-Picot, membentuk negara-negara dengan sejarah yang dipisahkan oleh kepentingan kolonial. Tantangan lain adalah distribusi. Banyak negara di Asia Barat dan Afrika Utara kekurangan infrastruktur bioskop dan menghadapi sensor yang ketat.

Palestina bukan sekadar lokasi konflik, melainkan juga poros moral bagi sinema di kawasan ini. Ia hadir sebagai kesadaran tentang kehilangan, ketahanan, dan kemanusiaan. Bagaimana gambaran mutakhir sinema Asia Barat dan Afrika Utara? Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta Sugar Nadia Azier menulis esai tentang itu dalam judul "Sinema Resistansi dan Peta Geopolitik Selatan Global".●

Lainnya